Bapak Ama Dela Marundrury, sosok pribadi orang yang berbuat tanpa banyak bicara.
Semoga menjadi pertimbangan sikap bagi putra Nias Barat lainnya.
Setelah Tsunami 26 Desember 2004 dan Gempa bumi 28 Maret 2005 menghancurlantahkan pasar Sirombu, Oleh Perjuangan Putra Nias Barat Bapak Fona Marundrury (Ama Dela) para donatur internasional telah membangun 239 rumah di perumahan Delasiga, 239 rumah di Gawuduho dan 40 rumah Gawuhao. Total rumah yang dibangun 518 buah. Bagaimana SDM, SDA dan perekonomian masyarakatnya….? merupakan tanggung jawab dan tugas Putra Daerah dan Pemerintah Indonesia ! oh Ya ?
KAWASAN 239 RUMAH DI PERUMAHAN DELASIGA-SIROMBU
BAPAK AMA YENI (PAKAI TOPI MERAH), SALAH SEORANG WARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH PADA SAAT PENYERAHAN RUMAH KEPADA WARGA DI DELASIGA-SIROMBU
RUMAH SALAH SEORANG WARGA PERUM DELASIGA-SIROMBU
PANGERAN ALBERT II MENERIMA BOLANAFO DARI WARGA SIROMBU
GEDUNG SERBAGUNA/SEKOLAH DI PERUM DELASIGA-SIROMBU
WARGA SIROMBU MENYAMBUT PANGERAN ALBERT II DI PERUM DELASIGA-SIROMBU
PERUMAHAN DELASIGA-SIROMBU
JALAN MENUJU PERUM DELASIGA-SIROMBU
Air Mata Itu Berubah Menjadi Senyuman, kOMPAS, 4 DESEMBER 2006
Tubuh Orin Daeli (42), guru Sekolah Dasar Nomor 071184, Tetesua, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias, Sumatera Utara, bergerak lincah. Bersama belasan perempuan Desa Sirombu, Orin penuh semangat bernyanyi dan menari.
Ibena Marundrury (50) tak kuasa menahan air mata saat memberikan tas anyaman sebagai kenang-kenangan untuk sang pangeran. Dalam bahasa Nias, Ibena dengan haru mengucapkan terima kasih atas bantuan Pangeran Albert.
Minggu (3/12) pagi, Pangeran Albert II dari Kerajaan Monako berlabuh di pantai Desa Sirombu, menggunakan kapal sewaan. Sederhana, dengan pengawalan ala kadarnya dan tanpa aturan protokoler.
Tak berlebihan jika warga Desa Sirombu mengucapkan syukur. Lewat lembaga The Monaco Asia Sosiety (MAS), Pangeran Albert membangun rumah bagi 239 keluarga warga Sirombu, desa kecil di sisi barat Pulau Nias yang 26 Desember 2004 hancur oleh tsunami.
“Kami dulu tinggal berbulan-bulan di tenda,” kata Liana Halawa (39), warga Sirombu. Masa depan saat itu tak jelas. Apalagi, tanggal 28 Maret 2005, gempa berkekuatan 8,7 skala Richter mengguncang Nias, merobohkan bangunan yang tersisa. Hidup menjadi begitu suram.
Bencana itu mengetuk hati banyak orang dan lembaga untuk membangun Nias. Mereka, antara lain, United in Diversity (UID), yang akan menjadi Yayasan untuk Indonesia Damai, sebuah lembaga hasil Forum Bali tahun 2003, The Monaco Asia Society sebagai donatur, Zero to One, Yayasan Delasiga, dan Yayasan Cinta Anak Bangsa. Mereka bahu-membahu membangun Desa Sirombu.
Ratusan rumah tahan gempa kini berdiri di lahan seluas 8,6 hektar, yang dinamakan Kompleks Monaco, tiga kilometer dari desa lama. Rumah dibangun dengan dinding sarkon, yang disusun dari lempengan cetakan semen. Tiang panel ditanam 1,8 meter.
Satu bangunan terdiri dari dua rumah, yang masing-masing terdiri dari dua kamar tidur, satu ruang keluarga, dan satu kamar mandi. Tiap rumah berdiri di atas lahan sekitar 120 meter persegi, sedangkan luas bangunan 8,8 meter kali 6,6 meter. Setiap keluarga juga mendapat bantuan furniture, seperti lemari, tempat tidur, meja makan, hingga seprai. Warga juga dibuatkan sekolah dasar, diberi 60 perahu, dan 282 beasiswa. Kini sedang disiapkan bantuan listrik tenaga matahari untuk setiap rumah sebab listrik di Nias sering padam.
Pangeran Albert pun diam-diam datang untuk meresmikan Kompleks Monaco, bukan dalam sebuah kunjungan resmi. Meskipun UID menyarankan tidak lewat laut, pangeran yang mendarat di Sumatera lewat Padang hari Sabtu itu memilih jalur laut untuk memasuki Sirombu.
Albert dijemput di bibir pantai dengan perahu motor. Ombak yang besar membuat proses transit dari kapal ke perahu berlangsung cukup lama. Seorang petugas keamanan yang mengawal rombongan dari Padang ke Sirombu mengatakan hujan mengguyur mereka di sepanjang perjalanan, dirinya dan awak kapal bahkan mabuk laut.
Empat land cruiser disiapkan panitia untuk membawa rombongan Pangeran yang berjumlah 10 orang. Maklum, jalanan di Nias rusak berat. Lubang menganga di tengah jalan dan dipenuhi air merupakan pemandangan biasa. Menurut warga, situasi saat ini jauh lebih baik.
Bupati Nias Binahati A Baeha memuji keberhasilan proyek pembangunan Kompleks Monaco ini. Albert menikmati perjalanannya dan berteriak, “Yaahowu”, sapaan akrab masyarakat Nias.
Selain di Sirombu, Pangeran Albert juga meresmikan Panti Asuhan Monaco yang dikelola Kongregasi Suster-Suster Cintakasih (SCMM) di Gunungsitoli, empat jam perjalanan dari Sirombu. Separuh jalan di antaranya rusak berat. Sebelum peresmian panti asuhan, ia mengikuti misa kudus di Gereja Paroki St Maria Gunungsitoli yang dipimpin Administratur Keuskupan Sibolga Barnabas Winkler OFMCap.
Pangeran Albert sendiri mengatakan, apa yang ia lakukan di Indonesia ia lakukan pula di Thailand. Proyek kemanusiaan menjadi perhatian Monaco. “Saya senang semua menyambut dengan tersenyum,” katanya. Karena kerja keras banyak orang, senyum itu kini tercipta di Sirombu, dan menghapus kepedihan yang ditimbulkan oleh bencana dua tahun lalu.
Pangeran Albert dan Bill Clinton adalah dua pemimpin dunia yang peduli atas terjadinya tsunami di Aceh dan gempa di Nias. Kehadiran kedua pemimpin itu menunjukkan dunia tetap peduli Nias dan Aceh. Mestinya hal ini melecut Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias yang terkesan lamban.
Sabtu, 31 Desember 2005
MENGENANG SETAHUN TSUNAMI : SEHARI DI SIROMBU, oleh : EtaF. Wiriatmo Daely
Sirombu adalah sebuah kota kecil di Kecamatan Sirombu yang berada di pinggir pantai sebelah barat Pulau Nias. Sirombu bukan ibu kota Kecamatan Sirombu namun hanya sebuah kota kecil dimana pusat perdagangan di kecamatan berada disini. Sirombu letaknya lebih kurang 4 kilometer dari ibu kota Kecamatan Sirombu yaitu Tetesua. Senin tanggal 26 Desember 2004, pada pagi hari sebelum kebaktian gereja dimulai gemuruh ombak bercampur lahar menghempas pantai Sirombu. Pohon Kelapa, rerumputan, rumah, gereja, mesjid, vihara, sepeda motor terlindas dan terhempas oleh dahsyatnya Tsunami. Lebih kurang 10 orang warga Sirombu meninggal dunia dan beberapa orang sampai saat ini tidak diketahui dimana mayatnya terbawa oleh ganasnya gelombang Tsunami. Sirombu dan warganya menangis bersama jutaan umat manusia di Aceh dan di negara lain yang terlanda Tsunami. Solidaritas bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia ikut prihatin dan memberikan bantuan, tanpa melihat suku, bangsa, ras dan agama semua membantu meringankan beban yang diderita oleh warga Sirombu.
Empat hari telah kita lalui, setahun sudah kejadian Tsunami seakan-akan mimpi buruk yang kemarin malam kita mimpikan, bayangan kejadiannya masih terus terbayang namun Tsunami seakan tertinggal oleh mimpi buruk yang lebih buruk lagi yaitu gempa bumi. Pada hari Kamis tanggal 29 Desember 2005 kami berkesempatan melihat langsung kondisi kota kecil Sirombu di Kecamatan Sirombu. Kota kecil Sirombu seakan tinggal nama saja, dan nyaris bagaikan kota mati tanpa adanya denyut kehidupang perdagangan seperti setahun yang lalu. Rumah yang dan toko yang masih tetap bertahan lebih kurang 3 rumah/toko. Pemerintah Kabupaten Nias pada mulanya memang telah membuat himbauan untuk tidak ada lagi yang bertempat tinggal lagi di Sirombu karena akan ditata nantinya menjadi suatu wilayah objek turisme. Namun Sepinya Sirombu bukan disebabkan warga benar-benar sadar untuk melaksanakan himbauan pemerintah namun karena adanya gempa bumi pada hari Senin tanggal 28 Maret 2005, warga benar-benar kalap dan kapok untuk tinggal di Sirombu. Warga Sirombu pada malam itu berlari dan berpindah menuju Tetesua (ibu kota Kecamatan Sirombu) karena rasionalitas pikiran akan munculnya Tsunami yang maha dasyat karena gempanya yang cukup kuat dan lama (bukan iklan obat kuat, red.). Gempa yang getarannya sedikit saja tanggal 26 Desember 2004 sudah mengerikan gelombang Tsunaminya, konon lagi kalau getarannya rruarr biasa (ini baru iklan, red.). Warga memutuskan untuk mengungsi dan menetap di Tetesua hingga saat ini setelah setahun adanya Tsunami.
Pelabuhan Sirombu sejak usai Tsunami sudah tidak pernah disinggahi kapal yang berasal dari Sibolga yang memasukkan barang dari Sibolga ataupun yang membawa hasil bumi Kecamatan Sirombu untuk dibawa ke Sibolga. Oleh Bapak Naz. Gea, administratur pelabuhan Sirombu mengatakan bahwa sampai saat ini ia belum mengetahui apakah Pelabuhan ini akan tetap pada lokasi semula atau akan direlokasi pada lokasi baru yang kabarnya berjarak lebih kurang 3 kilometer yaitu di Gawuduho. Jalan ke lokasi Gawuduho sudah diaspal namun realisasi pembangunan pelabuhan dan siapa yang akan membangun masih belum ada. Gea menambahkan bahwa lalulinta kapal yang bersandar umumnya kapal boat kecil yang berasal dari Pulau Hinako (masih bagian dari Kecamatan Sirombu) yang hilir mudik untuk membawa kebutuhan masyarakat Hinako. Kondisi pelabuhan Sirombu rusah berat dimana bagian atas yang membentuk huruf T sudah hancur akibat gempa bumi yang lalu. Akibat lain sejak gempa bumi ini air laut di pantai Sirombu surut lebih kurang 1,5 – 2 meter sehingga wilayah pantai bertambah sejauh lebih kurang 150 meter kearah laut. Kaki fondasi tonggak pelabuhan kelihatan mengakibatkan kapal yang dapat bersandar ke Pelabuhan adalah kapal kecil atau boat.
Lebih kurang 3 km dari Sirombu menuju Tetesua tepat di daerah Mbaöla, sebuah Yayasan yang dimotori oleh Fona Marunduri telah berhasil membangun ratusan rumah penduduk yang diutamakan warga masyarakat Sirombu yang non Pegawai Negeri. Beberapa pegawai negeri warga Sirombu hanya dapat mengelus dada mencoba bertahan hidup meskipun rumah dan harta bendanya juga ikut musnah akibat Tsunami dan Gempa. Rumah yang dibangun oleh Yayasan Delasiga ini ukurannya lebih kurang 7 X 5 meter, 2 kamar, dinding dari bahan pasir beton, lantai semen dan beratap seng. Masyarakat Sirombu sangat bersyukur atas bantuan Yayasan Delasiga dan lebih dari 70% dari rumah yang sudah siap telah dihuni oleh warga masyarakat Sirombu.
Sebuah pasar yang terletak lebih kurang 100 meter dari kantor Camat Sirombu yang dibangun oleh IOM terlihat sepi dan tidak ada yang menyewa dan atau menempati. Kondisi pada saat dilihat penuli terlihat beberapa dinding pecah dan terbuka alias bolong. Beberapa warga enggan berkomentar mengapa tidak ada yang menempati kios, namun dari beberapa informasi mengatakan bahwa ukuran setiap kios yang sangat kecil lebih kurang 1 X 2 meter tidak biasa bagi warga pedagang masyarakat Sirombu yang berdagang pada kios yang lebih besar dari ukuran yang dibangun oleh IOM tersebut. Tetapi justru 30 meter dari Pasar/Kios yang dibangun IOM telah berdiri beberapa rumah darurat dijadikan sekalian kios/toko tempat berjualan warga. Tetesua ibu kota Kecamatan Sirombu telah beralih menjadi kota perdagangan baru menggantikan Sirombu.
Gawuduho yang letaknya lebih kurang 3 km dari Tetesua menjadi lahan potensial bagi pengembangan kawasan perdagangan dan kawasan industri dan pelabuhan. Yayasan Delasiga telah mencoba menawarkan usul bagi pembangunan suatu kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan dalam suatu konsorsium namun saat ini belum ada tindak lanjutnya karena belum adanya kepastian akan beberapa konsesi yang diajukan konsorsium kepada pemerintah. Namun jalan menuju Gawuduho sudah diaspal dengan baik dan 2 buah jembatan penghubung juga telah dibangun dengan baik.
Banyak harapan yang ada dalam benak warga Sirombu. Meskipun kota kecil Sirombu nantinya akan hilang namun kiranya pembangunan akan adanya kawasan pelabuhan, industri dan perdagangan akan dapat terealisasi di kawasan sekitar Sirombu. Semoga
Terima Kasih kepada Pangeran Albert II dari Monaco
Nias, 5 Desember 2006 – 3 Desember 2006. Pangeran Monaco, Albert II, mengunjungi Nias, pulau yang didera tsunami Desember 2004 dan gempa bumi besar Maret 2005. Dalam kunjungan informal ini beliau meresmikan proyek kawasan perumahan untuk 239 keluarga korban tsunami di Kecamatan Sirombu. Sirombu, berlokasi di bagian barat Nias, adalah salah satu kecamatan di Nias yang paling parah terkena tsunami yang menewaskan 122 jiwa. Proyek tersebut didanai penuh oleh Pangeran Monaco, dimulai pada Maret 2005 dan rampung pada Juni tahun ini. BRR mendukung proyek itu melalui pembangunan jalan akses dan jaringan listrik ke kawasan dibangunnya perumahan. Daerah tersebut populer di kalangan masyarakat Sirombu sebagai Kawasan Monaco.
Monaco juga telah membangun sebuah sekolah dasar di Sirombu berkapasitas 300 siswa. 60 perahu nelayan juga diberikan kepada keluarga-keluarga yang telah kehilangan perahu-perahu mereka. Masyarakat Sirombu juga telah menerima 10 ton kapal pemancing. Yayasan Pangeran Monaco juga telah membantu rekonstruksi sebuah panti asuhan di Gunung Sitoli.
Pangeran Albert II berulang kali menyatakan bahwa bantuan ini murni dari hati beliau. Kunjungan beliau ke Nias telah jelsa mengindikasikan usaha tulusnya untuk secara konsisten mendukung aktivitas kemanusiaan untuk orang-orang yang membutuhkan.
William Sabandar, kepala kantor perwakilan BRR di Nias menyatakan bahwa Monaco telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi proses pemulihan di Kepulauan Nias. Proyek permukiman di Sirombu merupakan proyek perumahan pertama di Nias setelah tsunami dan gempa bumi yang terjadi. ”Sejak awal, perhatian para donor untuk Nias sedikit. Melalui proyek ini kami memperkenalkan Nias kepada para donor. Proyek perumahan ini memberikan motivasi kepada BRR dan organisasi lain yang beroperasi di pulau ini untuk mempercepat proses pemulihan (setelah bencana)”
Pangeran Albert II Resmikan Bantuan untuk Sirombu
Sumber: Sinar Harapan
Tanggal: 6 Desember 2006
Rabu, 06 Desember 2006
Pangeran Albert II Resmikan Bantuan untuk Sirombu
Nias – Atas undangan United In Diversity atau Yayasan Untuk Indonesia Damai (UID), masyarakat Desa Sirombu Pulau Nias, Minggu (3/12), menerima kunjungan beberapa wakil Monaco Asia Society (MAS), yang sekaligus meresmikan sejumlah proyek kemanusiaan.
Rombongan MAS itu dipimpin Pangeran Albert II dari Monako, yang juga Honorary Chairman organisasi tersebut. Desa Sirombu adalah salah satu desa di Pulau Nias yang terkena bencana tsunami 26 Desember 2004 dan gempa bumi berskala 8,7 Richter pada 28 Maret 2005 yang lalu.
Proyek kemanusiaan di Nias ini diprakarsai oleh pendiri UID, yang kini menjadi anggota Dewan Pembina UID, yaitu Cherie Nursalim melalui hubungan dengan Mr Francesco Bongiovanni, Presiden MAS yang tergerak untuk membantu para korban tsunami dan gempa bumi di Indonesia.
Pada saat yang bersamaan UID mendapat informasi dari Veronica Colondam, CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang menyampaikan bahwa Desa Sirombu sangat memerlukan bantuan kemanusiaan akibat tsunami. UID kemudian menyurvei di lapangan bersama YCAB dan Posko Delasiga pimpinan Fona Marundrury yang juga putra daerah Desa Sirombu.
Proyek relokasi dan rehabilitasi Desa Sirombu yang didanai Monaco Asia Society ini dimulai pada Februari 2005. UID menggandeng Zero to One Foundation sebagai kontraktor pembangunan rumah sebanyak 239 unit lengkap dengan perabotan, dan satu bangunan sekolah dasar.
Di samping itu diberikan beasiswa untuk 282 anak sekolah dari tingkat SD sampai SMA di Sirombu untuk tahun ajaran 2005-2006, 60 kapal nelayan lengkap dengan peralatan penangkapan ikan dan 1 kapal motor berbobot 10 ton. Keseluruhan proyek berhasil diselesaikan pada Juli 2006, sehingga dapat diresmikan oleh Pangeran Albert II dari Monako pada 3 Desember 2006.
Saat ini, 239 keluarga Desa Sirombu yang kehilangan harta benda akibat bencana telah mendapatkan tempat tinggal baru, sehingga dapat melanjutkan kehidupan mereka untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
Rosihan Arsyad, Ketua Yayasan Untuk Indonesia Damai/United In Diversity (UID), dalam sambutannya menyampaikan terima kasih seluruh rakyat Desa Sirombu atas bantuan Monaco Asia Society.
Rosihan juga menyampaikan terima kasih atas dipercayanya UID untuk melaksanakan proyek bantuan kemanusiaan yang merupakan sumbangan Monaco Asia Society tersebut.
Dalam sambutannya, Pangeran Albert II menyampaikan rasa gembiranya karena telah dapat membantu meringankan penderitaan masyarakat Desa Sirombu dan menyatakan kepuasannya atas selesainya proyek yang dilaksanakan dengan sangat baik oleh Yayasan Untuk Indonesia Damai (UID)
sumber : http://pilarniasbarat.wordpress.com/2007/10/13/sirombupasarkota-pelabuhan-kenangan/
http://fokusniasbarat.wordpress.com/sirombu/
DIarsipkan di bawah: 1










SAMPAI KAPANKAH

Yaahowu Gaa Ama Dela. kalau tidak keberatan dan ikhlas tolong persiapkan diri utk menjadi pimpinan di Nias Barat biar hanya 1 periode pertama saja.
Besar sekali keyakinan masyarakat Nias barat bisa menjadi lebih sejahtera jika dikelola orang seperti bpk Ama Dela.
Yaahowu
T. Hia / Ama Rafael
Saya sangat setuju pendapat pak Hia, utk awal Nias Barat perlu orang yang memiliki sense of entreprenuership/kewirausahaan agar Nias Barat cepat keluar dari kemiskinan.
Semoga Tuhan membuka hati pak Ama Dela utk bersedia menjadi calon Bupati, kami siap utk mesosialisasikan kepada seluruh masyarakat nias barat.
Yaahowu
Ya’ahowu!
Wacana brillian dari Bp. Ones Waruwu (no.2) untuk mensosialisasikan ga’a Ama Dela Marunduri perlu dipertimbangkan ke depan sbg calon pemimpin Nias Barat. Namun tanpa sosialisasi-pun, figur bang Ama Dela telah melekat di hati nurani sebagian besar masyarakat Nias Barat yang menginginkan suatu perubahan nasib/iklim kehidupan seiring kemajuan pembangunan di berbagai aspek. Kiranya di semua kecamatan Nias Barat nantinya dapat dibangun area Delasiga2 lainnya atau similar.
Moga2 ga’a Ama Dela terpanggil & tergerak hati nuraninya untuk mengabdi langsung ba khõda minimal 5 tahun. Saya yakin bang Ama Dela memahami sepak terjang politik ba Indonesia, dan alangkah lebih baiknya semakin diasah terus,,,ibarat sebuah pedang yang tiap hari diasah, maka pedang tsb semakin berkilau & tajam yang se-waktu2 siap digunakan.
Politik & Bisnis sami mawon, akan tetapi: visi misi, style, prosedur, the game & tantangannya beda2 tipis alias “serupa tapi tak sama” he…8x.
Sukses selalu untuk bang Fena Marunduri (Ama Dela)/keluarga & bisnisnya, Gbu.
Shallom,
ArifmanGulõ (A.NisoGulõ)
+6281210130588
Semoga putra/i terbaik nias barat mau mengabdi bagi daerahnya.
Setuju….pak Ama Dela jika mau menjadi bupati Nias Barat !
Target yang dicapai supaya semua masyarakat Nias Barat memiliki penghasilan yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan hal ini bisa diwujudkan jika Leadernya memiliki skill utk itu.
Salam buat pak Ama Dela, Yaahowu
Nias Barat sangat mengharapkan di Pilkada yang mencalonkan diri adalah orang yang mau membangun Nias Barat bukan yang mau membangun dirinya/groupnya.
Sosok Pak Ama Dela sangat tepat kalau mau mengabdi di Nias Barat agar masyarakat bisa meningkat ekonominya.
Oke kita tunggau pak ya ! di kecamatan Mandrehe kita siap pak.
oh……jangan lupa, mengelola bisnis beda mengelola pemerintahan……….
benar sekali sdr Meiatasi Dolai lebih susah dan banyak ilmu yg dibutuhkan utk mengekola bisnis shg orang bisnis yg ke pemerintahan umumnys sukses. seperti Fadel Muhamad di Gorontalo.
Yamutolo’ö Soaya
sorry pak moderator, saya tidak pernah memberi komentar di sini sebelumnya, IP saya bisa di check, dan mhn untuk dihapus komentar atas nama ama maya di atas. Terima kasih ats kebesaran hati Pak Wiriatmo selaku moderator.
“sudah cukup masalalu yang sangat pahit bagi saya, org tua saya yg sudah matipun dicacimaki by media maya seperti ini”. Keberuntungan berpihak kepada orang yang tulus hatinya…!
Mari berjiwa besar dalam mengisi pembangunan, di Nias Barat, minimal wacana dan ide yang membawa kepada kebaikan …niscaya Tuhan memberkati kita semua.
Mustika Ranto Gulo
ranto@microtellindo.com
08557878556
yahowu pak pendeta Ama Maya……..
pasti semua masyarakat nias barat diberkati oleh Tuhan berkat doa bapak……
lanjutkan terus melakukan pekerjaan Tuhan……………………
Yaahowu fefu…….
Saya sangat kaget ketik ada teman yang beritahu ke saya kalau ada web niasbarat yang baru lagi. Ini yang pertama sekali saya browsing situs gemaniasbarat.word…….com. Ketika pertama saya lihat dan saya senang…awlaupun akhirnya say cukup kecewa ketika mulai membaca dan banyak sekali nama saya di dalam ini… Pad kesempatan ini saya klarifikasi kepada seluruh netter yang mempergunakan situs ini bahwa yang menulis commment saya selama ini adlah orang yang sengaja membuat nama saya tidak baik. Saya tidak pernah memberikan comment di situs ini, dan ini yang pertama sekali. Saya harapakan kepada siapaun yang memberikan respon terhadap berita/opini dan apapun dalam web ini sebaiknya memberikan nama yang jelas. Jangan kita saling menjatuhkan dan apalagi mberkan comment yang cukup arogan, tidak baik di mata Tuhan apalagi dalam kehidupan bersosisal. Sekarng mari kita saling mendukung dan memberi contoh kebaikan maupun kebajikan untuk keberhasilan kita bersama. Situs ini kita pergunakan untuk saling mengisi dan memahami sipa kita masing-masing. Yang kuat membantu yang lemah dan yang lembah mendukung yang kuat…itu lebih indah daripada kita saling menghujat dan menjelekkan satu dengan yang lain. Saya bukan orang yang arogan dan bukan juga orang yang suka menyombongkan diri, tiada yang sempurna dalam hidup ini dan tidak ada manusia yang bisa hidup dengan sendiri..tetapi setiap insqan membutuhkan sesama untuk saling hidup berdampingan. Semoga ini tidak akan terulang lagi dan sekali lagi marilah kita saling memahami dan saling mengerti akan satu dengan yang lain. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin
Meiatasi Dolai (Ama Ezer Dolai ) – Gunungsitoli Nias
Hp. 0813 7671 7671
Balas