Hancurnya Sentral Ekonomi Pasar Sirombu Menyebabkan Tidak ada Masyarakat ‘Elite’ di Nias Barat.

Diakui bahwa di kawasan Nias Barat atau Aechula, pasar Sirombu merupakan sentral perekonomian yang sangat pesat di Pulau Nias bersama dengan Gunung Sitoli, Lahewa dan Teluk dalam. Namun kepopuleran itu hanya terjadi sampai tahun 1980an. Kepudaran itu dimulai dengan terjadinya kebakaran total semua toko pada tahun 1986, terbukanya jalan kendaraan roda empat ke Gunungsitoli via kecamatan Lölöwa’u terjadinya tsunami 26 desember 2004 dan gempa bumi 28 maret 2005 .

Maka sempurnalah ‘kehilangan’ pasar Sirombu dengan berpindahnya pemukiman warga ke Delasiga Gawuhao dan ditambah pelabuhan angin Sirombu tidak ada kapal masuk dari Sibolga atau Padang sehingga praktis kegiatan pelabuhan hanya kapal kecil yang datang dan pergi ke kepulauan Hinako.

Di zamannya era sebelum tahun 1990an pasar Sirombu merupakan denyut jantung ekononomi di kawasan aechula interaksi roda perekonomian menjangkau ke Salonako di utara dan Omboyu No’o'u di selatan serta kapal yang datang dari Sibolga minimal 2 kali dalam seminggu bersandar di pelabuhan Sirombu untuk mengantar barang konsumsi masyarakat dan mengangkut hasil bumi ke Sibolga.

Didukung dengan dua kilang minyak kelapa di Sirombu dan Hinako serta menampung karet hasil dari kecamatan Sirombu, Mandrehe, Lölöwa’u dan sebagian Alasa (kecamatan sebelum dimekarkan) serta kilang padi dan agen minyak tanah pasar Sirombu telah melahirkan pengusaha kehai dan niha khöda yang sukses katakanlah Kehai seperti Ama Fe’a, Haiko, Lianga, Ama Conga, Ama Pe’a, Ama Köma, Buaya, Siwa, Sabe’ehulu dll sedangkan niha khöda seperti Ama Lisabe Gulö, Ama Nefo Daely, Ama mbudira Marundruri, Ama Soni Gulö, Ama Rine Marundruri, Ama Alui Gulö, Ama Wau’u Waruwu, Ama Yasökhi Gulö, Ama Ena waruwu, Ama Nida Hia, Ke’i Daely, Ama Lukuri Hia, Ama Hamida waruwu, Ama Hasa Marulafau, Ama Gusu Gulö, Saomi, Ama Wirida marundruri, Ama Amana daely dll.

Namun itu semua tinggal ‘kenangan lama’ termasuk bagaimana ramainya pasar sirombu pada hari sabtu sehingga orang-orang saling bersenggolan kalau jalan di pasar yang panjangnya kira2 500 meter dan lebar 20 meter itu.

Seandainya pasar Sirombu itu seperti itu sampai sekarang bukan tidak mungkin apapun yang terjadi di Nias Barat akan dikelola oleh ‘elite’ Nias Barat yang memiliki kekuatan ekonomi atau menganggap kelasnya beda dengan yang lain seperti ‘niha fasa’, ‘niha danö’, ‘niha hulo’…akhirnya kata orang bijak yang mengatakan ’segala sesuatunya indah pada waktunya’ telah menjadi kenyataan di Nias Barat.

Ini sinyal fenomena alam terhadap seluruh masyarakat Nias Barat terlebih bagi orang-orang yang membedakan dirinya dengan yang lain, sepanjang Tuhan mempercayakan anda utk menjadi saluran tangan Tuhan jangan ada padamu hati yang congkak dan menganggap yang lain tak perlu ‘diperhitungkan’.

selamat Nias Barat jadilah kabupaten yang diberkati oleh Tuhan.
NBB Nias Barat Bersih, bebas KKN dan suap-suap pada pilkada.

Sirombu

Sirombu1

aasumber : http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=167120626434#/note.php?note_id=167120626434&ref=nf

Satu Tanggapan

  1. salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, posting yg menarik :) … salam kenal yaa

Tinggalkan Balasan