Merangsang Niat Perantau Nias Memiliki Perhatian Terhadap Kampung Halaman (Banua Zatua)

Siklus Kehidupan Manusia Dan Perantauan

GNB (Gema Nias Barat)Pemikiran yang sudah lama ada di benak saya, ketika saya mengamati siklus kehidupan orang dari Nias (juga dari daerah lain di Sumatera Utara) yang pergi merantau.

Pertama mereka sekolah SD atau sampai SLTA di kampung lalu meneruskan utk kuliah atau mencari pekerjaan di tempat merantau. Bagi yang melanjutkan pendidikan dan masih ‘disponsoir’ dari kampung maka mereka masih sering pulang ke kampung. Namun bagi yang sudah mandiri dan apalagi sudah berkeluarga maka mereka akan menetap di daerah/kota tempat mereka mencari nafkah, membeli dan membangun rumah yang permanen. Lalu memiliki anak dan anak mereka sekolah disana, anaknya ini juga sama dengan orang tuanya akan mencari penghidupan atau meneruskan studi di tempat lain.

Logo Gerakan Masyarakat Nias Barat (Gema Nias Barat)

Setelah tua juga sangat jarang yang kembali ke kampung di Nias bahkan hampir sampai akhir hayatnya menetap di daerah perantauan dan meninggal dunia disana, boleh dikatakan akses ke kampung halaman hilang begitu saja. demikian juga ada sebagian yang mengadakan kegiatan pergi ke kampung halaman di Nias hanya sebagai perjalanan sekali waktu saja. Maka dalam kehidupan mereka dan anak-anak mereka Nias adalah hanya sebagai kampung asal nenek moyang saja. Berdasarkan kenyataan dimasa lalu mayoritas anak Nias yang merantau selalu berdiam menetap didaerah perantauan dan sangat sedikit kemungkinan anak cucu mereka akan kembali hidup menetap di Nias. Kejadian seperti ini menyebabkan ada banyak putra/i dari Nias yang jejaknya hilang sama sekali dari kampung halamannya. Ada diantara mereka yang tidak punya sanak keluarga yang berdiam di kampung halaman sehingga putus sama sekali komunikasi ke kampung leluhurnya.

Logo GNB

Fenomena ini sangat bertolak belakang dengan siklus kehidupan masyarakat yang ada di Pulau Jawa atau daerah lain dimana walaupun anak-anak dari suatu kampung sudah bisa mencari nafkah di tempat rantau namun ‘menaruh perhatian’ ke kampungnya itu selalu ada bahkan mereka membuat rumah di kampung sebagai tempat isterahat dimasa tua. Dan hal ini juga sangat didukung dengan tradisi mudik yang dilakukan pada saat hari raya atau hari liburan lainnya. Kalau dipikir-pikir secara tak langsung putra daerah ini sudah ikut membangun daerahnya ketika mereka membelanjakan uangnya untuk membangun rumahnya atau ketika pulang kampung, sangat membantu perkembangan kampung halaman mereka.Dan juga putra/i dari daerah itu tidak putus komunikasi dengan sanak keluarga yang ada di kampung halaman.

Menanamkan pemikiran menghabiskan hari tua di kampung.

Loni Gulo, 25 Maret 2010 Seminar Nias Barat di Tugala - Sirombu

Berbagai nilai tambah akan diperoleh demi kemajuan kampung halaman bila putra/inya yang merantau selalu pulang ke kampung, apakah sekali dalam setahun atau membuat aktivitas disana sehingga lebih sering balik ke kampung. yang sederhana saja adalah orang di kampung mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang tidak begitu dimengerti oleh orang di kampung bisa diperoleh dari mereka ini, demikian juga berbagai pengalaman positif di daerah rantau bisa diterapkan disini sehingga mendorong masyarakat untuk menirunya. Tentu untuk merangsang pemikiran para perantau ini agar punya perhatian ke kampung halaman dibutuhkan usaha-usaha dari orang yang ada dikampung, misalkan saja dengan mengadakan syukuran rutin akhir tahun suatu kampung atau suatu rumpun keluarga atau marga atau Ōri dengan mengundang putra/i daerahnya yang berada di perantauan. Pesta budaya dapat menjadi sarana mengundang mereka untuk menghadirinya, bisa juga dengan membentuk kegiatan seperti yayasan atau kelompok usaha yang melibatkan putra/i daerah yang merantau. Dan mungkin masih banyak cara yang bisa dilakukan agar bisa ‘mencuri’ perhatian putra/i daerah yang merantau. Baik yang dilaksanakan oleh perkumpulan komunitas atau pemda.

Dengan seringnya mengunjungi daerahnya dan banyak hal yang diketahui disana akan memungkin putra/i Nias yang berada di perantauan dapat tertanam dalam hati mereka untuk bisa menjadikan kampung halaman sebagai tempat beristerahat di hari tua. Bila hal ini sudah tertanam di benak setiap perantau maka otomatis secara bertahap akan berinvestasi di kampung halamannya untuk persiapan dihari tua disana, semoga.

Satu Tanggapan

  1. Artikel diatas memang sebuah realita yang susah dibantah, bahwa yang sudah merantau, bisa dihitung dengan jari siapa yang kembali ke kampung halaman ( Banua zatua ) apalagi nano isondra ” howu howu maifu bawekolinia “diantaranya saya termasuk putra Nisbar yang mencari kehidupan di negeri orang. seseorang punya prinsip berbeda , alasan ndak pulang menetap di kampung (Tano Niha ).Bagi saya (ndak tahu bagi yang lain) :
    1.Terikat dengan kegiatan keseharian/tugas
    2.Tidak sama/tdk ada dikampung profesi yg dirantau (kalo pindah )
    3. Karakter Nono niha ( belum berubah) “nano moi yawa dalifusonia afu afunia idoni tou ”
    4.Penerusan study anak pasti banyak yang di rantau ketimbang dikampung halaman.Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.