Kemiskinan di Nias

Nias – Kanisbar

foalagundrisirombuWalaupun sumber daya alam (SDA) kaya dan melimpah ruah di Nias namun kalau sumber daya manusia (SDM) belum ada ketrampilannya maka tetap saja daerah tersebut menjadi daerah miskin.

Pengertian Kemiskinan
Pengertian kemiskinan ada bermcam-macam, namun dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan terpadu harus ada kesepakatan pemahaman semua pihak penyelenggara agar targeting yang dilaksanakan tepat sasaran baik target penduduk miskin maupun program yang dilaksanakan. Pengertian kemiskinan yang perlu diketahui dan dipahami adalah sebagai berikut:
1. Kriteria BPS, kemiskinan adalah suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2.100 kalori per hari.
2. Kriteria BKKBN, kemiskinan adalah keluarga miskin prasejahtera apabila:
a. Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya.
b. Seluruh anggota keluarga tidak mampu makan dua kali sehari.
c. Seluruh anggota keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
d. Bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah.
e. Tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan.
3. Kriteria Bank Dunia, kemiskinan adalah keadaan tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari.

Masyarakat Miskin
Menurut Gunawan Sumodiningrat, masyarakat miskin secara umum ditandai oleh ketidakberdayaan /ketidakmampuan (powerlessnesss) dalam hal:
1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan (basic need deprivation).
2. Melakukan kegiatan usaha produktif (unproductiveness).
3. Menjangkau sumber daya sosial dan ekonomi (inacceribility).
4. Menentukan nasibnya diri sendiri serta senantiasa mendapat perlakuan diskrminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalistik (vulnerability); dan
5. Membebaskan diri dari mental budaya miskin serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (no freedom for poor).
Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan tersebut menumbuhkan perilaku miskin yang bermuara pada hilangnya kemerdekaan untuk berusaha dan menikmati kesejahteraan secara martabat.

Nias memiliki lahan desa-desa yang relatif subur seperti di wilayah kabupatennya yang sangat banyak ditumbuhi pohon kelapa hingga 46.123 Ha, yang menutupi hampir seluruh pantainya. Walaupun demikian, tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di seluruh desa-desa pada umumnya masih sangat rendah. Dengan kata lain tingkat kesejahteraan sosial ekonomi penduduk tidak sesuai dengan tingkat kesuburan lahan yang dimilikinya.
Disamping rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan penduduk, terbatasnya modal serta prasarana produksi

Masalah utama Nias yang sangat pelik dan membuat penduduknya selalu terperangkap pada situasi keterbelakangan dan kemiskinan tersebut, pertama adalah adat istiadat (sehingga Nias ini dapat dikategorikan sebagai daerah kemiskinan cultural), dan yang kedua keterissolasian desa-desa dalam kabupaten Nias itu sendiri.
Dalam keadaan rata-rata pendapatan masyarakat pedesaan yang demikian rendah, adat istiadat mewarnai cara hidup suku Nias ini dan dikategorikan sangat ketat, dan juga demikian konsumtif. Hampir tidak ada acara adat yang tidak dilayani dengan pengorbanan materi yang sangat besar terutama untuk menyiapkan makanan bagi para tetamu.
Adat istiadat yang masih sangat kuat melekat pada kehidupan masyarakat Nias ini merupakan ongkos ekonomi maupun sosial yang sangat tinggi dan harus dibayar, walaupun kurang menciptakan multiplier ekonomi yang sangat diperlukan bagi pembangunan atau untuk melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan.

Program IDT adalah program pembangunan perdesaan, khusunya desa-desa tertinggal, dengan fokus kepada pembangunan manusianya melalui program pembangunan sosial dan program pembangunan ekonomi. Program pembangunan ekonomi diarahkan untuk meningkatkan pendapatan penduduk miskin yang berarti meningkatkan daya beli mereka.
Program IDT merupakan kemauan yang besar dari pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan di Indonesia. Melihat sifatnya yang terbuka, dan pendekatannya yang terpadu, gotong-royong, berkeswadayaan, partisipatif, dan terdesentralisasi.

Inpres Desa Tertinggal (IDT) merupakan perwujudan konkret dari sikap atau kemauan politik pemerintah dalam rangka menigkatkan dan mempercepat usaha untuk memerangi atau mengentaskan kemiskinan diseluruh wilayah Negara kesatuan Rebuplik Indonesia.
IDT yang secara resmi oleh Presiden dinyatakan sebagai gerakan nasional penaggulangan kemiskinan, yang berarti IDT bukan saja gerakan kelompok masyarakat yang dikategorikan miskin, tetapi juga merupakan tanggung jawab dan gerakan aparatur pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat lainnya dengan tujuan untuk mengentaskan kemiskinan.
Kelompok masyarakat miskin merupakan suatu kelompok yang benar-benar sangat sulit keadaannya dan terbatas pula kemampuannya. Pemberian bantuan IDT dalam bentuk dana modal kerja hanya merupakan pemberian salah satu alat atau faktor bagi kelompok bersangkutan, sehingga mempunyai tenaga baru tambahan (internal faktor) dalam mendinamiser anggota kelompok untuk menjadi lebih kuat mengungkit beban yang mereka hadapi.
Dalam kondisi desa sebagaimana yang terdapat di Nias, faktor eksternallah yang akan paling banyak menentukan keberhasilan program IDT, sehingga kemiskinan dapat dientaskan.

Kemampuan masyarakat di desa masih sangat rendah, baik karena rendahnya pengetahuan maupun pendidikan. Oleh karena rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan tersebut, maka perlu segera direalisasi pengadaan pendamping yang akan memberikan bimbingan dan penyuluhan atau pembinaan kepada kelompok masyarakat.
Kalaupun pembentukan kelompok masyarakat sudah selesai, namun bagaimana menyusun rencana usaha kegiatan dan bagaimana mengatur usaha organisasi kelompok, keberhasilannya sangat ditentukan oleh keberadaan pembimbing nantinya (akibat ketidakmampuan kelompok).
Salah satu alternative yang dapat dipergunakan sebagai tenaga pendamping bagi kelompok masyarakat ini, adalah dengan menggunakan lembaga gereja BNKP yang cukup berpengaruh dan ada dihampir semua kecamatan dan relatif disegani oleh anggota masyarakat yang umumnya beragama Kristen yang sudah menjadi anggota BNKP tersebut.
Menggunakan pendamping dari luar (apalagi dari luar Nias), kemungkinan besar akan menghadapi masalah, karena beratnya medan yang dihadapi, karena kurang terbiasanya terhadap lingkungan yang serba kekurangan, seperti tempat tinggal, makanan, kamar mandi, hubungan antar rumah di desa yang berjauhan dan hanya dijangkau dengan jalan kaki, terlalu tersolirnya desa ini, dan lain sebagainya.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kemiskinan adalah situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh masyarakat miskin, melainkan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya. Kemiskinan antara lain ditandai oleh sikap dan tingkah laku yang menerima keadaan yang seakan-akan tidak dapat diubah, yang tercermin di dalam lemahnya kemauan untuk maju, rendahnya produktivitas, terbatasnya modal yang dimiliki, rendahnya pendapatan, dan terbatasnya kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan.
Hal tersebut terjadi di daerah-daerah tertinggal di Indonesia. Khususnya dua desa tertinggal yang masuk dalam kategori parah di Kabupaten Nias, Propinsi Sumatera Utara, yaitu Desa Sifalago Gomo dan Desa Balohili Gomo.
Salah satu tumpuan untuk mengentaskan kemiskinan yaitu program IDT (Inpres Desa Tertinggal). Program tersebut harus terus diadakan demi tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Termasuk pula untuk mengangkat derajat kesejahteraan, khusunya di dua desa di Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Saran
a. Perlu adanya kegiatan lanjutan agar upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa tertinggal tersebut dapat segera ditingkatkan, seperti program IDT secara berkelanjutan.
b. Memberikan bantuan modal dan pelatihan untuk memberi pengajaran dalam menciptakan usaha, sehingga tidak selamanya tergantung pada pemerintah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: