Patung Tekhemböwö Ini Membuat Pontang-panting Serdadu Belanda

TEHKKLUPatung Batu ini merupakan peninggalan Nenek Moyang Warga Moro’ö yang dijuluki sebagai “SILIMA INA”. Menurut cerita warga setempat bahwa Silima Ina inilah yang menurunkan Marga Gulö,  Zebua, Hia, Waruwu, dan Zai dan berkembang hingga sekarang keturunan marga ini tersebar di seluruh Kepulauan Nias, Sumatera Utara dan bahkan hingga ke manca negara.

NIAS BARAT, KOMPAS.com – Wisata di Kepulauan Nias memang sejak dahulu telah dikenal sebagai salah pusat pariwisata di Sumatera Utara. Banyak sekali tempat dan obyek wisata yang ada di Kepulauan Nias, khususnya di Kabupaten Nias Barat yang setiap tahun semakin berkembang. Salah satunya adalah Obyek Wisata Patung Batu Megalith. Satu Patung Batu Megalith yang disebut Patung Tekhemböwö yang berbentuk manusia ini berada di Desa Hiligoe Sisarahili I, Kecamatan Mandrehe yang dapat ditempuh kurang lebih 3 km dari ibu kota kabupaten dan dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.TEHKE

Patung batu ini merupakan peninggalan nenek moyang Warga Moro’ö yang dijuluki sebagai “Silima Ina”. Menurut cerita warga setempat bahwa Silima Ina inilah yang menurunkan Marga Gulö, Zebua, Hia, Waruwu, dan Zai dan berkembang hingga sekarang sampai tersebar ke seluruh Kepulauan Nias hingga ke mancanegara.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat, Yamonaha Waruwu, mengatakan bahwa kelima marga tersebut lambat laun berpisah dan mendirikan kampung masing-masing. Tekhemböwö sendiri padanan kata “tekhe” yang berarti hasil musyawarah dan “bowo” berarti jujuran atau mas kawin. “Sehingga jika diartikan sebagai Jujuran Adat yang telah dimusyawarahkan secara bersama-sama,” kata Waruwu.

Menurut cerita dahulu saat penjajahan Belanda di Indonesia, suatu ketika serdadu Belanda melewati perkampungan tempat patung tersebut berada. Para serdadu tersebut selalu mendengar suara banyak orang berteriak. Tapi, ketika para serdadu Belanda melihat sekitar mereka, tidak ada satu pun warga yang terlihat. Alhasil, mereka pun lari pontang-panting.

“Terkait dalam hal pelestarian, pembinaan dan penelitian benda cagar budaya maka kita dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nias Barat akan terus menjaga dan melestarian patung megalith itu,” kata Waruwu.

KOMPAS.com/HENDRIK YANTO HALAWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: